Ayam Jago Suro
Sebagai
pembuka kata dalam membahas dan mengulas Jago Suro, Primbon Betaljemur
Adammakna menegaskan bahwa :
“Mulane
diarani Jago Suro, sebab yen diadu menangan, matane awas lan arang kejalu,
kejaba yen tarung pada Jago Suro”
(Maka dinamakan Jago Suro, sebab bila diadu sering
menang, matanya awas dan jarang terkena jalu, kecuali bila diadu dengan sesama
Jago Suro)
Inilah
yang disebut Jago Suro menurut Primbon tersebut :
- Warna wido cepoko, ekor mubal silap putih, jalu canthel dan jengger telon.
- Warna merah, sayap kanan kiri silap putih, paruh atas bagian yang paling atas bulat memanjang sampai ke ujung (“cucuk ndhuwur ndaler ngrante saeler” – bhs. jawa)
- Warna blorok, kaki hitam, jalu bungkus.
- Warna lurik, paruh dan kakinya trotol hitam, jalu canthel.
- Warna wiring galih, mata jalak, jengger telon, jalu panjang buntu.
- Jago apapun warnanya, namun tembolok ada di sebelah kiri juga disebut Jago Suro.
- Jago yang lancurnya mencuat ke atas satu ekor, disebut dengan Jago Suro Dhukun.
- Jago yang lancurnya mencuat ke atas dua ekor, disebut dengan Jago Suro Temanten.
- Jago yang jalunya bertingkat, namanya Jago Suro Tanjungkarang.
- Jago yang bila dipegang terus diangkat, di dalamnya terdengar seperti suara air, disebut Jago Suro Kopyor.
Sekian
sekilas mengenai ayam Jago Suro berdasarkan Kitab Primbon Jawa. Seperti artikel
kami sebelumnya, bahwa literatur tersebut dapat kita jadikan salah satu acuan
dalam menilai katuranggan ayam. Karena leluhur kita meninggalkan warisan ilmu
berdasarkan ilmu titen yang sudah banyak teruji di masa lalu.
Semoga
dapat memberikan tambahan pengetahuan bagi rekan pencinta ayam aduan. Semoga
sukses!!!
Salam Ayam,
No live link!!! Dont Spam Here!
ReplyDeleteNo live link!!! Dont Spam Here!
ReplyDeleteNo live link!!! Dont Spam Here!
ReplyDeleteNo live link!!! Dont Spam Here!
ReplyDeleteNo live link!!! Dont Spam Here!
ReplyDelete